Rabu, 28 Agustus 2013

Kematian "Classic Number 10" di Era Sepak Bola Modern

Mungkin bagi para penggemar Serie-A Italia tahun 90-an kenal betul istilah trequartista atau classic number 10. Bagi yang belum tahu trequartista merupakan sebutan buat pemain-pemain yang dapat mengontrol permainan di belakang dua striker atau striker tunggal, pemain yang mempunyai skill di atas rata-rata, dengan kontrol sempurna, dribble mumpuni, dan insting mencetak gol yang tinggi. Bermain di belakang dua striker atau striker tunggal tidak mematikan peran seorang trequartista. Kemampuan para trequartista tidak hanya mengontrol permainan atau sekadar melakukan key-pass, tetapi mereka juga diberkahi insting tajam mencetak gol

Nama-nama seperti Roberto Baggio, Rui Costa, Zinedine Zidane, Francesco Totti, Alessandro Del Piero..??nama-nama barusan telah menjadi idola,bagi para penikmat bola  yang mengikuti sepak bola Italia pada tahun 90-an dan awal 2000-an. Roberto Baggio selama karirnya dia berhasil mencetak 221 gol; Del Piero 208 gol; dan yang terbaru Totti dengan torehan 225 gol (bahkan masih bisa bertambah karena Del Piero dan Totti masih aktif bermain). Zidane tak perlu lagi kita bahas kehebatannya, dia adalah maestro, trequartista terbaik yang pernah ada.
Era trequartista klasik di Italia mulai tergerus pada awal tahun 2000-an. Kepergian Del Piero dari Italia pada musim panas tahun 2012 membuat luka tersendiri. Entah itu bagi para rekan setim, fans, bahkan seorang "lawan abadi" Ale, Francesco Totti, juga bersedih. Bagaimana tidak, pemilik nomor punggung 10 di Italia yang setipe Del Piero memang sudah sedikit jumlahnya. Sebelum Del Piero hijrah ke Australia, pengguna nomor punggung 10 seperti Del Piero hanya tinggal dirinya dan Totti. Kini Italia kehilangan sosok il pinturicchio, kehilangan seorang trequartista handal.



                                                                    Francesco Totti





                                                              Alessandro Del Piero


Pada sepakbola modern, kontrol permainan lebih memilih peran deep lying-playmaker atau regista untuk mengatur permainan. Sebenarnya peran regista dan trequartista sama, mengendalikan permainan sebuah tim tapi seorang trequartista juga diberkahi dalam urusan mencetak gol. Andrea Pirlo, bisa dikatakan regista pertama yang terlihat di dunia sepak bola. Pemain yang punya peran sama dengan trequartista, namun lebih mendalam. Mungkin il Metronome lah yang telah mengilhami banyak pelatih sekarang menggunakan jasa seorang regista, dan menghilangkan peran trequartista di sepak bola modern.
Di luar Italia, tak banyak pemain yang dapat julukan trequartista. Di Argentina, nama Juan Roman Riquelme terlihat sebagai sebuah trequartista andal. Seandainya Riquelme sekarang masih bermain di tim nasional Argentina bersama Lionel Messi, mungkin Argentina akan menjadi sebuah tim yang menakutkan.
Pada era sepak bola modern seperti sekarang ini, peran playmaker memang masih sangat dibutuhkan, tetapi mungkin mereka tak bisa disebut sebagai seorang trequartista. Xavi Hernandez di Barcelona lebih seperti regista, dia tidak terlalu membantu penyerangan, hanya mengalirkan laju-laju bola di Blaugrana dan mengontrol permainan. Andres Iniesta bisa saja disejajarkan dengan para trequartista, sebab dengan skill individu yang di atas normal, juga insting mencetak gol yang lumayan tinggi, serta kemampuan mengontrol permainan, dan passing yang sering memanjakan La Pulga di tiap pertandingan adalah cerminan seorang trequartista.

Lantas disebut apakah David Silva, Samir Nasri, Juan Mata, Eden Hazard, Oscar, Mesut Ozil, Jack Wilshere, Shinji Kagawa atau Mario Gotze? Entahlah, tapi kemampuan mereka masih belum bisa disejajarkan dengan nama-nama seperti Baggio, Rui Costa, Alessandro Del Piero, Totti maupun Zidane


-Sumber Artikel bola-

Minggu, 04 Agustus 2013

Semoga engkau yang dipilih

Bagi saya, sebuah pengalaman pribadi yang akhirnya menyimpulkan jika saya bisa bangun pagi di ⅓ malam terakhir adalah suatu nikmat yang luar biasa apa lagi di bulan ramadhan 1434H

Di saat itulah, salah satu waktu terbaik untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Di waktu itu pula, suasana yang masih hening dan segarnya udara membuat kita fokus untuk Menghadap Allah Yang Maha Kuasa.

Setelah saya amati, apa yang saya alami, biarpun saya sudah setting alarm, sudah tidur lebih awal, kadang ya tetap saja saya tidak bangun pada ⅓ malam itu. Di lain waktu, saya tidak setting alarm, tidur lebih malam, dan tiba-tiba saja bisa bangun di ⅓ malam yang indah itu.

Kadang perasaan menyesal timbul disaat saya tidak bisa bangun di ⅓ malam, karena saya merasakan suatu kenikmatan dalam beribadah di waktu tersebut. Saya merasa, saya dipilih, diberi kesempatan untuk merasakan waktu yang indah ini, merasa mendapat nikmat yang luar biasa jika bisa bangun dan beribadah di ⅓ malam terakhir.

Dalam doaku banyak harapan-harapan yang semoga terealisasi dimasa depan dan rasa syukur yang saya capai saat ini, semoga saya bisa mendapat kesempatan ini sepanjang hidup dan semoga engkau kawans,mbak-mbak, mas-mas, dipilih untuk bangun di ⅓ malam untuk menegakkan qiyamullail , aamiin ya Rabbal’aalamiin