Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam
bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau
mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.
Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: "Ada anak
sungai di bawahmu, goyangkan pangkal pohon kurma
ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu.
Kalau ada yang datang katakan: 'Aku bernazar tidak
bicara.'"
"Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk.
Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,"
demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya
menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang
bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah
yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta
mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa:
"Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
ketika aku dibangkitkan hidup kembali."
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34.
Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan
selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa
a.s.
Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah
Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam
yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga
Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya
kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus
percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba
dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh
nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir
(natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari
keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa
'Asyura, seraya bersabda, "Kita lebih wajar merayakannya
daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s."
Bukankah, "Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?"
seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut
kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau
batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat.
Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih
yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah
disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang
tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti
untuk merujuk kepercayaan kita.
Isa a.s. datang mermbawa kasih, "Kasihilah seterumu dan
doakan yang menganiayamu." Muhammad saw. datang membawa
rahmat, "Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit
merahmatimu." Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena
itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.
Isa menunjuk dirinya sebagai "anak manusia," sedangkan
Muhammad saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: "Aku
manusia seperti kamu." Keduanya datang membebaskan manusia
dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan.
Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit
telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan
kekeliruan mereka dengan berkata, "Dia tidak mati, tetapi
tidur." Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra
Muhammad, orang berkata: "Matahari mengalami gerhana karena
kematiannya." Muhammad saw. lalu menegur, "Matahari tidak
mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang."
Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah
dan tertindas -dhu'afa' dan al-mustadh'affin dalam istilah
Al-Quran.
Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan
Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa'
(Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut
Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya
mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat
dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang
dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan
selamat natal itu?
Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim
mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan
ritual . Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata
yang melarangnya.
Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat
dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan
dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa
pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama
kerukunan.
Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas,
dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan
dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu
kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman, sampai
dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak
disalahpahami. Kata "Allah," misalnya, tidak digunakan oleh
Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami
masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki
Islam. Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah
Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada
wahlyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering
menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, "Dimana Tuhan?" Tertolak riwayat sang menggunakan
redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan
pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil
pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama
bangsa kita enggan menggunakan kata "ada" bagi Tuhan,
tetapi "wujud Tuhan."
Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan "Selamat Natal" atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu,
sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat,
aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak
dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal.
Adakah kacamata lain? Mungkin!
Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan "Selamat
Natal" Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah
yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan
dan menghayati satu ayat Al-Quran?
Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan,
Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan
bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau
keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh
pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan
memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan
keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah
ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun
non-Muslim memahami ucapan "Selamat Natal" sesuai dengan
keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang
memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis
keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka
interaksi sosial.
Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.
Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah
berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian
umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas
dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita
dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti.
-Santri Nasionalis, Pluralis dan Indonesianis-
Kamis, 19 Desember 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Kematian "Classic Number 10" di Era Sepak Bola Modern
Mungkin bagi para penggemar Serie-A Italia tahun 90-an kenal
betul istilah trequartista atau classic number 10. Bagi yang belum tahu
trequartista merupakan sebutan buat pemain-pemain yang dapat mengontrol
permainan di belakang dua striker atau striker tunggal, pemain yang mempunyai
skill di atas rata-rata, dengan kontrol sempurna, dribble mumpuni, dan insting
mencetak gol yang tinggi. Bermain di belakang dua striker atau striker tunggal
tidak mematikan peran seorang trequartista. Kemampuan para trequartista tidak
hanya mengontrol permainan atau sekadar melakukan key-pass, tetapi mereka juga
diberkahi insting tajam mencetak gol
Lantas disebut apakah David Silva, Samir Nasri,
Juan Mata, Eden Hazard, Oscar, Mesut Ozil, Jack Wilshere, Shinji Kagawa atau
Mario Gotze? Entahlah, tapi kemampuan mereka masih belum bisa disejajarkan
dengan nama-nama seperti Baggio, Rui Costa, Alessandro Del Piero, Totti maupun
Zidane
-Sumber Artikel bola-
Nama-nama seperti Roberto Baggio, Rui Costa, Zinedine
Zidane, Francesco Totti, Alessandro Del Piero..??nama-nama barusan telah
menjadi idola,bagi para penikmat bola yang mengikuti sepak bola Italia pada tahun
90-an dan awal 2000-an. Roberto Baggio selama karirnya dia berhasil mencetak
221 gol; Del Piero 208 gol; dan yang terbaru Totti dengan torehan 225 gol
(bahkan masih bisa bertambah karena Del Piero dan Totti masih aktif bermain).
Zidane tak perlu lagi kita bahas kehebatannya, dia adalah maestro, trequartista
terbaik yang pernah ada.
Era trequartista klasik di Italia mulai tergerus pada awal
tahun 2000-an. Kepergian Del Piero dari Italia pada musim panas tahun 2012
membuat luka tersendiri. Entah itu bagi para rekan setim, fans, bahkan seorang
"lawan abadi" Ale, Francesco Totti, juga bersedih. Bagaimana tidak,
pemilik nomor punggung 10 di Italia yang setipe Del Piero memang sudah sedikit
jumlahnya. Sebelum Del Piero hijrah ke Australia, pengguna nomor punggung 10
seperti Del Piero hanya tinggal dirinya dan Totti. Kini Italia kehilangan sosok
il pinturicchio, kehilangan seorang trequartista handal.
Francesco Totti
Alessandro Del Piero
Pada sepakbola modern, kontrol permainan lebih memilih peran
deep lying-playmaker atau regista untuk mengatur permainan. Sebenarnya peran
regista dan trequartista sama, mengendalikan permainan sebuah tim tapi seorang
trequartista juga diberkahi dalam urusan mencetak gol. Andrea Pirlo, bisa
dikatakan regista pertama yang terlihat di dunia sepak bola. Pemain yang punya
peran sama dengan trequartista, namun lebih mendalam. Mungkin il Metronome lah
yang telah mengilhami banyak pelatih sekarang menggunakan jasa seorang regista,
dan menghilangkan peran trequartista di sepak bola modern.
Di luar Italia, tak banyak pemain yang dapat julukan
trequartista. Di Argentina, nama Juan Roman Riquelme terlihat sebagai sebuah
trequartista andal. Seandainya Riquelme sekarang masih bermain di tim nasional
Argentina bersama Lionel Messi, mungkin Argentina akan menjadi sebuah tim yang
menakutkan.
Pada era sepak bola modern seperti sekarang ini, peran
playmaker memang masih sangat dibutuhkan, tetapi mungkin mereka tak bisa disebut
sebagai seorang trequartista. Xavi Hernandez di Barcelona lebih seperti
regista, dia tidak terlalu membantu penyerangan, hanya mengalirkan laju-laju
bola di Blaugrana dan mengontrol permainan. Andres Iniesta bisa saja
disejajarkan dengan para trequartista, sebab dengan skill individu yang di atas
normal, juga insting mencetak gol yang lumayan tinggi, serta kemampuan
mengontrol permainan, dan passing yang sering memanjakan La Pulga di tiap
pertandingan adalah cerminan seorang trequartista.
-Sumber Artikel bola-
Minggu, 04 Agustus 2013
Semoga engkau yang dipilih
Bagi saya, sebuah pengalaman pribadi yang akhirnya menyimpulkan jika
saya bisa bangun pagi di ⅓ malam terakhir adalah suatu nikmat yang luar
biasa apa lagi di bulan ramadhan 1434H
Di saat itulah, salah satu waktu terbaik untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Di waktu itu pula, suasana yang masih hening dan segarnya udara membuat kita fokus untuk Menghadap Allah Yang Maha Kuasa.
Setelah saya amati, apa yang saya alami, biarpun saya sudah setting alarm, sudah tidur lebih awal, kadang ya tetap saja saya tidak bangun pada ⅓ malam itu. Di lain waktu, saya tidak setting alarm, tidur lebih malam, dan tiba-tiba saja bisa bangun di ⅓ malam yang indah itu.
Kadang perasaan menyesal timbul disaat saya tidak bisa bangun di ⅓ malam, karena saya merasakan suatu kenikmatan dalam beribadah di waktu tersebut. Saya merasa, saya dipilih, diberi kesempatan untuk merasakan waktu yang indah ini, merasa mendapat nikmat yang luar biasa jika bisa bangun dan beribadah di ⅓ malam terakhir.
Dalam doaku banyak harapan-harapan yang semoga terealisasi dimasa depan dan rasa syukur yang saya capai saat ini, semoga saya bisa mendapat kesempatan ini sepanjang hidup dan semoga engkau kawans,mbak-mbak, mas-mas, dipilih untuk bangun di ⅓ malam untuk menegakkan qiyamullail , aamiin ya Rabbal’aalamiin
Di saat itulah, salah satu waktu terbaik untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Di waktu itu pula, suasana yang masih hening dan segarnya udara membuat kita fokus untuk Menghadap Allah Yang Maha Kuasa.
Setelah saya amati, apa yang saya alami, biarpun saya sudah setting alarm, sudah tidur lebih awal, kadang ya tetap saja saya tidak bangun pada ⅓ malam itu. Di lain waktu, saya tidak setting alarm, tidur lebih malam, dan tiba-tiba saja bisa bangun di ⅓ malam yang indah itu.
Kadang perasaan menyesal timbul disaat saya tidak bisa bangun di ⅓ malam, karena saya merasakan suatu kenikmatan dalam beribadah di waktu tersebut. Saya merasa, saya dipilih, diberi kesempatan untuk merasakan waktu yang indah ini, merasa mendapat nikmat yang luar biasa jika bisa bangun dan beribadah di ⅓ malam terakhir.
Dalam doaku banyak harapan-harapan yang semoga terealisasi dimasa depan dan rasa syukur yang saya capai saat ini, semoga saya bisa mendapat kesempatan ini sepanjang hidup dan semoga engkau kawans,mbak-mbak, mas-mas, dipilih untuk bangun di ⅓ malam untuk menegakkan qiyamullail , aamiin ya Rabbal’aalamiin
Jumat, 10 Mei 2013
Stinky
Saya akan menceritakan sedikit tentang salah satu lagu nostalgia untuk mereka yang lahir, tumbuh, menjalani dan
melewati masa indah di era 90-an, dasawarsa yang penuh warna, penutup
milenium ke-2.
Banyak peristiwa yang terjadi di masa peralihan menuju abad baru ini. Banyak pula hal yang bisa diceritakan baik itu gaya hidup, trend dan kebiasaan yang serba unik, meski kalo jaman sekarang hal-hal seperti itu telah di anggap ketinggalan jaman dan gak penting banget, namun bagi saya tetep legendaris
Saya akan meceritakan salah satu band era 90an
Stinky yang terlahir di Jakarta Barat pada tahun 1992 ini menggunakan Sigung (hewan pada komik Donald Bebek) sebagai logo grup. Sigung adalah binatang yang memiliki senjata pamungkas dengan baunya tapi sebenarnya dia adalah binatang romantis. Makanya mereka lebih suka pakai nama itu dan kesan romantis itu bisa terdengar dari tema lagu – lagu yang mereka mainkan. Lewat lagu romantis pula nama Stinky berkibar. Band dengan formasi awal : Andre Taulany [Vokal], Edy Suryo Triputrianto [Drum], Ndhak Surahman Hartono [Gitar], Helman Maulana [Gitar] dan Irwan Batara [Bas] semula adalah band rock. Stinky yang juga bisa berarti Satu Pikiran, S berarti satu Tinky berarti Thinking.
Semula mereka berasal dari dua band yang berbeda yaitu Trailer dan Madesu [Masa Depan Suram], mereka suka berkompetisi saat acara perpisahan SMA, tapi nggak tahunya dua – duanya sama jelek, akhirnya mereka putuskan untuk gabung dan jadilah Stinky. Setelah lulus SMA Stinky ikut beberapa festival dan dari beberapa festival itu mereka dapat meraih gelar kejuaraan. Stinky dua kali ikut festival rock di Budi Luhur dan meraih dua penghargaan Grup Terbaik dan Grup Terfavorit pada tahun 1993. Selain itu Stinky juga meraih juara harapan di festival Jakarta Rock [Jak Rock]. Dari tiga prestasi itu mereka membuat demo – demo yang ditawarkan hampir kepada semua perusahaan rekaman di Jakarta. Waktu itu konsep musiknya rock. Tapi nggak diterima.

Stinky lantas banting setir. Dari rock mereka mencoba peruntungan di jalur pop. Disaat mereka sudah putus asa Irwan pun mencoba menciptakan lagu pop, terciptalah lagu dengan judul `Asa Yang Tersisa`. Setelah tiga tahun bergerilya dengan mengirim demo, akhirnya Billboard tertarik. Agustus 1995 Stinky mulai kontrak dan mulai merilis album pertama sampai beredar pada tahun 1996 dan album tersebut meledak dan stinky-pun terangkat namanya dan
mensejajarkan diri dengan band-band populer pada masa itu.
Stinky dengan formasi awal dengan andre sebagai front man telah merilis 8 album di luar The Best Of Stinky dan Love Song Of Stinky.
Jaman andre masih belum lucu
Banyak peristiwa yang terjadi di masa peralihan menuju abad baru ini. Banyak pula hal yang bisa diceritakan baik itu gaya hidup, trend dan kebiasaan yang serba unik, meski kalo jaman sekarang hal-hal seperti itu telah di anggap ketinggalan jaman dan gak penting banget, namun bagi saya tetep legendaris
Saya akan meceritakan salah satu band era 90an
Stinky yang terlahir di Jakarta Barat pada tahun 1992 ini menggunakan Sigung (hewan pada komik Donald Bebek) sebagai logo grup. Sigung adalah binatang yang memiliki senjata pamungkas dengan baunya tapi sebenarnya dia adalah binatang romantis. Makanya mereka lebih suka pakai nama itu dan kesan romantis itu bisa terdengar dari tema lagu – lagu yang mereka mainkan. Lewat lagu romantis pula nama Stinky berkibar. Band dengan formasi awal : Andre Taulany [Vokal], Edy Suryo Triputrianto [Drum], Ndhak Surahman Hartono [Gitar], Helman Maulana [Gitar] dan Irwan Batara [Bas] semula adalah band rock. Stinky yang juga bisa berarti Satu Pikiran, S berarti satu Tinky berarti Thinking.
Semula mereka berasal dari dua band yang berbeda yaitu Trailer dan Madesu [Masa Depan Suram], mereka suka berkompetisi saat acara perpisahan SMA, tapi nggak tahunya dua – duanya sama jelek, akhirnya mereka putuskan untuk gabung dan jadilah Stinky. Setelah lulus SMA Stinky ikut beberapa festival dan dari beberapa festival itu mereka dapat meraih gelar kejuaraan. Stinky dua kali ikut festival rock di Budi Luhur dan meraih dua penghargaan Grup Terbaik dan Grup Terfavorit pada tahun 1993. Selain itu Stinky juga meraih juara harapan di festival Jakarta Rock [Jak Rock]. Dari tiga prestasi itu mereka membuat demo – demo yang ditawarkan hampir kepada semua perusahaan rekaman di Jakarta. Waktu itu konsep musiknya rock. Tapi nggak diterima.
Stinky lantas banting setir. Dari rock mereka mencoba peruntungan di jalur pop. Disaat mereka sudah putus asa Irwan pun mencoba menciptakan lagu pop, terciptalah lagu dengan judul `Asa Yang Tersisa`. Setelah tiga tahun bergerilya dengan mengirim demo, akhirnya Billboard tertarik. Agustus 1995 Stinky mulai kontrak dan mulai merilis album pertama sampai beredar pada tahun 1996 dan album tersebut meledak dan stinky-pun terangkat namanya dan
mensejajarkan diri dengan band-band populer pada masa itu.
Stinky dengan formasi awal dengan andre sebagai front man telah merilis 8 album di luar The Best Of Stinky dan Love Song Of Stinky.
Jaman andre masih belum lucu
Jumat, 05 April 2013
Dream come true
Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya, seorang anak daerah yang
karena pekerjaan saat ini ikut terlibat dalam mega proyek Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra, sampai saat ini masih dalam proses pengerjaan seperti rapat
persiapan, survei lapangan,penentuan trase untuk tahap selanjutnya desain struktur, perkerasan dan seterusnya sampai pengelolaan jalan tol.
Bagi saya pribadi, hal ini bisa
dibilang suatu rezeki nomplok,karena ikut membantu mempermudah akses pergerakan lalu lintas penduduk dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya dan memperdalam ilmu teknik sipil yang saya dapat selama dibangku kuliah seperti PGJ (Perancangan Geometrik Jalan),Reklalin (Rekayasa Lalu Lintas),Perancangan Jembatan yang selalu
menarik secara lahir batin hee. Saya menjadi semakin tertantang untuk terus
mengupayakan pengerjaan secepat dan seefisien mungkin.
Suatu kepuasan batin yang luar biasa jika berhasil membantu masyarakat pengguna jalan, dapat melaju dengan lancar, aman, dan nyaman. Bagi saya, inilah tahapan yang terus saya syukuri, sebelum sampai pada episode-episode mimpi saya selanjutnya..... Aamiin y Allah
Action dulu yaa hee
Suatu kepuasan batin yang luar biasa jika berhasil membantu masyarakat pengguna jalan, dapat melaju dengan lancar, aman, dan nyaman. Bagi saya, inilah tahapan yang terus saya syukuri, sebelum sampai pada episode-episode mimpi saya selanjutnya..... Aamiin y Allah
Action dulu yaa hee
Minggu, 24 Maret 2013
Semua ada masanya
Ibarat sebuah nasehat, lirik lagu, judul puisi atau yang lainnya, kali ini saya mau membahas handphone.
Era kejayaan SE mungkin bisa dibilang sudah lewat, semenjak hadir serbuan smartphone akhir ini, ibarat sebuah zaman, zaman keemasan SE sepertinya telah hilang dan berganti ke zaman yang kekaratan.Mungkin sebuah pertanda alam menggerakan kekuatannya untuk menggulung kehidupan handphone merek SE, termasuk handphone saya, sebuah SE yang sekarang mengalami bedrest.
Itu mungkin sedikit analisa saya kenapa SE saya sering sakit-sakitan, namanya sudah classic, masih harus menanggung beban tekanan di atas 100 push per hari pasti akan menyebabkan fatig yg luar biasa. Mau diikhlasin untuk berganti menggunakan handphone sentuhan era sekarang, eh berat juga hati ini merelakan,dan pada akhirnya saya wariskan hahaa. Ada sebuah teori yang masih terngiang di kepala, semua ada masanya, tp saya yakin sesuatu yang classic, walaupun eranya sudah berganti, pasti memiliki nilai yang lebih daripada yang sedang booming saat ini.
Semoga saja SE classic saya dilirik oleh kolektor benda classic yang bisa lebih menghargai benda classic dibanding counter handphone yg ada di mall atau pinggir jalan. Mungkin di saat itulah saya merelakan SE classic saya untuk berpindah dari tangan bapak dan mendapat perlakuan yang istimewa dari sang kolektor.
Sabtu, 02 Maret 2013
Filosofi Bowling
Hari minggu tanggal 24 feb 2013 saya menuju ke sebuah Mall di Jakarta, perjalanan dimulai dari mess naik bus transjakarta sekitar 30 menit. Tujuan saya saat itu ke gramedia untuk mencari lanjutan buku, komik .
Dalam bowling kita harus fokus agar dapat menjatuhkan 10 pin yang ada di ujung lintasan. Dan untuk menjatuhkan 10 pin itu kita tidak harus melihat posisi pin yang jauh di ujung lintasan. Ternyata di lintasan terdapat arrow yang berfungsi membantu kita untuk menjatuhkan pin. Cukup fokus mengalirkan bola melalui arrow yang dipilih, dan boom…pin akan terjatuh sesuai harapan jika kita tepat mengalirkan bola melintas diatas arrow yang menjadi target kita.
Setelah saya cermati teknik bermain bowling, bagi diri saya pribadi memiliki makna tersendiri, dalam kehidupan kita perlu memiliki target ke depan. Ibarat bermain bowling, kita tidak perlu terbayang dan fokus dengan hal-hal yang jauh di depan (ibarat pin yang berada diujung lintasan). Cukup tetapkan target (menjatuhkan 10 pin), fokus dengan hal yang dekat dengan diri kita, baik dari segi waktu maupun habbit (fokus ke arrow) dan lakukan ikhtiar dengan konsisten (menembak bola). Jika semua sudah pas, biarkan semua proses berjalan dengan wajar ( bola menggelinding) dan boom… target hidup kita akan tercapai dengan sendirinya (10 pin akan jatuh dengan sempurna)
Sabtu, 23 Februari 2013
Bersyukur & Sabar
Sebagai seorang manusia, sangat manusiawi jika memiliki sebuah
harapan yang besar untuk dicapainya. Sebuah harapan besar pasti
membutuhkan energi, pikiran dan waktu untuk mewujudkannya.
Alangkah senangnya jika harapan besar itu bisa diwujudkan dalam waktu sesingkat-singkatnya, tapi apakah semuanya tidak butuh persiapan dan ilmu? Persiapan dan ilmu itu juga butuh waktu.
Setelah mencoba merenung, harapan besar yang saya pikirkan belakangan ini tampak seperti sebuah serangan sporadis yang bisa dibilang merusak ritme hidup. Seakan melompat-lompat tanpa mengetahui tahapan mana yang musti dilewati dan diselesaikan terlebih dahulu. Saya kembali lagi dalam perenungan merangkai setiap kejadian sampai pada kondisi saya saat ini.
Semua begitu indah di saat saya bersyukur atas segala yang saya terima, bersabar dengan segala kondisi, memainkan peran yang semestinya saya jalani sebagai seorang mahkluk Allah SWT. Dengan jalan seperti itu saya lebih merasa nikmat yang luar biasa.
Saya juga merasakan tidak segala harapan besar itu baik bagi diri saya,terlebih berhubungan erat dengan kapasitas saya saat ini, seperti kejadian harus bersaing melawan senior yang beberapa tahun diatas saya,yaah...meski pada dasarnya saya memenangkannya.Tetapi apakah saya sudah pantas dan memiliki kapasitas untuk bisa menanggung sebuah perwujudan harapan yang besar? Saya analogikan sebagai sebuah gelas yang diisi air seember, pasti banyak yang mubazir terbuang. Atau seperti ukuran perut kita yang terbatas lalu kemudian kita makan dengan sangat kenyang yang bisa membuat sakit dan susah nafas.
Bersyukurlah dan sabar saya rasa bisa menjadi jalan untuk naik 'kelas' sesuai tahapan & dipantaskan Allah SWT untuk menerima & mengabulkan harapan besar yang pernah terucap dalam doa.
Insya Allah dengan didukung adanya niat baik,segala sesuatu akan dimudahkan dan mencapai hasil yang sesuai.
Alangkah senangnya jika harapan besar itu bisa diwujudkan dalam waktu sesingkat-singkatnya, tapi apakah semuanya tidak butuh persiapan dan ilmu? Persiapan dan ilmu itu juga butuh waktu.
Setelah mencoba merenung, harapan besar yang saya pikirkan belakangan ini tampak seperti sebuah serangan sporadis yang bisa dibilang merusak ritme hidup. Seakan melompat-lompat tanpa mengetahui tahapan mana yang musti dilewati dan diselesaikan terlebih dahulu. Saya kembali lagi dalam perenungan merangkai setiap kejadian sampai pada kondisi saya saat ini.
Semua begitu indah di saat saya bersyukur atas segala yang saya terima, bersabar dengan segala kondisi, memainkan peran yang semestinya saya jalani sebagai seorang mahkluk Allah SWT. Dengan jalan seperti itu saya lebih merasa nikmat yang luar biasa.
Saya juga merasakan tidak segala harapan besar itu baik bagi diri saya,terlebih berhubungan erat dengan kapasitas saya saat ini, seperti kejadian harus bersaing melawan senior yang beberapa tahun diatas saya,yaah...meski pada dasarnya saya memenangkannya.Tetapi apakah saya sudah pantas dan memiliki kapasitas untuk bisa menanggung sebuah perwujudan harapan yang besar? Saya analogikan sebagai sebuah gelas yang diisi air seember, pasti banyak yang mubazir terbuang. Atau seperti ukuran perut kita yang terbatas lalu kemudian kita makan dengan sangat kenyang yang bisa membuat sakit dan susah nafas.
Bersyukurlah dan sabar saya rasa bisa menjadi jalan untuk naik 'kelas' sesuai tahapan & dipantaskan Allah SWT untuk menerima & mengabulkan harapan besar yang pernah terucap dalam doa.
Insya Allah dengan didukung adanya niat baik,segala sesuatu akan dimudahkan dan mencapai hasil yang sesuai.
Jumat, 15 Februari 2013
Memahami Jilbab dalam Islam
''saya kutip dari buku teman semasa kuliah"
Memahami agama dari perspektif yang luas akan menuntun seseorang menjadi lebih arif dan lebih bijaksana dalam merespon berbagai bentuk sikap dan perilaku keagamaan dari para pemeluk agama. Perlu dicatat bahwa agama bukanlah hanya terdiri dari setumpukan teks-teks suci, melainkan juga mengandung pesan-pesan moral yang dapat diketahui melalui perenungan dan pembahasan secara mendalam dari berbagai perspektif terhadap hal-hal yang bersifat kontekstual dari sebuah teks suci. Demikian halnya dengan teks-teks agama yang berbicara soal jilbab.
Berbicara soal busana perempuan dalam Islam, data-data historis sepanjang sejarah Islam mengungkapkan bahwa pandangan para ulama tidak tunggal, melainkan sangat beragam. Setidaknya, pandangan ulama dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola. Pertama, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan tangan, bahkan juga bagian mata. Kedua, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian muka dan tangan. Ketiga, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi tubuhnya, selain muka dan tangan hanya ketika melaksanakan ibadah salat dan thawaf. Di luar itu, perempuan boleh memilih pakaian yang disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat. Rambut kepala bagi kelompok ini bukanlah aurat sehingga tidak perlu ditutupi.
Menarik digarisbawahi bahwa ketiga pola pandangan yang berbeda itu sama-sama merujuk kepada teks-teks suci agama dan sama-sama mengklaim diri sebagai pandangan Islam yang benar. Perbedaan pandangan para ulama soal busana perempuan ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan pandangan tentang batas-batas aurat bagi perempuan. Yang pasti bahwa semua pandangan tadi merupakan hasil ijtihad para ulama. Sebagai hasil ijtihad, pandangan itu bisa salah, tetapi juga bisa benar.
Ada kaidah dalam hukum Islam, bahwa tidak satupun ulama atau komunitas agama yang dapat mengklaim pandangannya sebagai suatu yang mutlak dan absolut. Sebab, pada tataran ijtihad semua pandangan adalah relatif dan nisbi, serta dapat diubah. Artinya, setiap ulama dan komunitas agama bisa saja mengklaim pendapatnya benar, tetapi yang lain pun dapat melakukan hal yang sama. Dalam konteks ini yang diharapkan adalah agar setiap penganut agama bisa menghargai pendapat orang lain, sepanjang orang itu tidak memaksakan pendapatnya atau tidak menyalahkan pendapat orang lain. Dengan demikian, yang diperlukan dalam beragama sesungguhnya adalah sikap menghargai dan menghormati orang lain apapun pilihan pendapatnya, dan perlunya kearifan dalam merespon perbedaan pendapat.
Lalu, apa yang dimaksud dengan jilbab? Kata jilbab adalah bahasa Arab, berasal dari kata kerja ‘jalaba’ bermakna “menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat.” Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan jilbab. Sebagian pendapat mengatakan jilbab itu mirip rida’ (sorban), sebagian lagi mendefinisikannya dengan kerudung yang lebih besar dari khimar. Sebagian lagi mengartikannya dengan qina’, yaitu penutup muka atau kerudung lebar. Muhammad Said Al-Asymawi, mantan hakim agung Mesir menyimpulkan bahwa jilbab adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. Jilbab dalam Islam sangat erat kaitannya dengan masalah aurat dan soal hijab.
Satu-satunya ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menggunakan istilah jilbab adalah ayat 59 surah al-Ahzab: “Wahai Nabi, katakanlan kepada para isterimu dan anak-anak perempuanmu, serta para perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Sebab, yang demikian itu akan membuat mereka lebih mudah dikenali sehingga terhindar dari perlakuan tidak sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Para ulama sepakat bahwa ayat tersebut merespon tradisi perempuan Arab ketika itu yang terbiasa bersenang ria. Mereka membiarkan muka mereka terbuka seperti layaknya budak perempuan, mereka juga membuang hajat di padang pasir terbuka karena belum ada toilet. Para perempuan beriman juga ikut-ikutan seperti umumnya perempuan Arab tersebut. Kemudian mereka diganggu oleh kelompok laki-laki jahat yang mengira mereka adalah perempuan dari kalangan bawah. Mereka lalu datang kepada Nabi mengadukan hal tersebut. Lalu turunlah ayat ini menyuruh para isteri Nabi, anak perempuannya dan perempuan beriman agar memanjangkan gaun mereka menutupi sekujur tubuh.
Muhammad Said Al-Asymawi berkata: 'illat hukum pada ayat-ayat jilbab, atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar perempuan-perempuan merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan perempuan-perempuan yang berstatus hamba sahaya dan perempuan-perempuan yang tidak terhormat. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi kerancuan menyangkut mereka dan agar masing-masing dikenal sehingga perempuan-perempuan merdeka tidak mengalami gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk terhadap mereka. Bukti tentang kebenaran hal ini adalah 'Umar Ibn Khaththab ra. bila melihat seorang perempuan budak menggunakan penutup muka atau mengulurkan jilbabnya, beliau mencambuk perempuan itu. Ini guna membedakan mereka dengan perempuan-perempuan merdeka.
Selain ayat tersebut, ayat-ayat lain yang menyinggung soal jilbab, adalah al-Ahzab, 32, 33 dan 53; serta an-Nur ayat-ayat: 30, 31 dan 60. Adapun hadis yang banyak dijadikan rujukan adalah hadis riwayat Aisyah dan hadis riwayat Abu Daud. Keduanya hadis ahad, bukan hadis mutawatir. Para pakar hukum umumnya sepakat menilai hadis ahad tidak kuat menjadi landasan hukum.
Jika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekedar agar mereka dikenali; atau agar mereka dibedakan dari perempuan yang bersatus budak; atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang tidak ada lagi perbudakan, juga busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas seseorang. Dewasa ini banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat perempuan terhormat dan disegani, misalnya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, memberdayakan mereka dengan mengajarkan berbagai skill dan keterampilan, memenuhi hak-hak asasi mereka, khususnya hak-hak reproduksi mereka.
Jika ayat-ayat jilbab mengandung pesan moral untuk meninggikan martabat kaum perempuan, maka kaum perempuan modern ditantang oleh Islam untuk menunjukkan martabat tersebut yang perlindungannya ditetapkan oleh agama, tetapi dengan suatu cara atau berbagai cara yang selaras dengan lingkungan mereka yang modern. Artinya, ajaran Islam menghendaki para perempuan tetap terjaga moralitasnya, meskipun tidak menggunakan simbol-simbol seperti jilbab dan sebagainya.
Pembacaan yang seksama terhadap semua ayat dan hadis Nabi tentang jilbab, pada akhirnya membawa kepada suatu kesimpulan berikut. Jilbab pada hakikatnya adalah mengendalikan diri dari dorongan syahwat, dan membentengi diri dari semua perilaku dosa dan maksiat. Jilbab dengan demikian tidaklah terkait dengan busana tertentu, melainkan lebih berkaitan dengan takwa di dalam hati. Perempuan beriman tentu secara sadar akan memilih busana sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan perhatian publik, dan yang pasti juga tidak untuk pamer (riya’).
Pemahaman tentang jilbab hendaknya dimulai dengan memahami tauhid, inti ajaran Islam. Tauhid, inti ajaran Islam mengajarkan bagaimana berketuhanan yang benar, dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Ajaran tauhid membawa kepada pengakuan akan persamaaan manusia di hadapan Tuhan dan keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, gender, ras, suku bangsa, dan bahkan agama. Pemahaman tauhid berimplikasi pada dua aspek ajaran: ajaran tentang ketuhanan (dimensi vertikal) dan kemanusiaan (dimensi horisontal). Yang pertama berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan (hablun minallah), sementara yang terakhir berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya (hablun minannas). Sayangnya, dalam praktek beragama di masyarakat, dimensi horisontal ini tidak terwujud dengan baik dalam kehidupan penganutnya. Penganut agama lebih mengutamakan hubungan dengan Tuhan ketimbang dengan sesamanya manusia. Akibatnya, agama sering tampil dalam wajah yang tidak bersahabat, terutama terhadap perempuan.
Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya penghormatan kepada manusia dan itu terlihat dari ajarannya yang sangat akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (Toleran). Salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan yang tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Yang membedakan hanyalah prestasi dan kualitas takwanya. Dan bicara soal takwa, hanya Tuhan semata yang berhak melakukan penilaian. Tugas manusia hanyalah berkompetisi melakukan amal baik sebanyak-banyaknya (fastabiqul khairat). Namun, tidak sedikit manusia memposisikan dirinya seperti Tuhan sehingga berani menilai manusia sebagai sesat, kafir, berdosa dan sebagainya.
Perempuan dan laki-laki dalam Islam sama-sama harus berbusana yang sopan dan sederhana, tidak pamer dan tidak mengundang birahi. Dengan mempelajari asbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab dapat disimpulkan bahwa jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Sebab, jika jilbab memang ditetapkan untuk perlindungan, atau lebih jauh lagi, untuk meningkatkan prestise kaum perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.
Memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu hanyalah ketentuan Al-Quran bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi, dan semua perempuan beriman di masa itu untuk menutup tubuh mereka atau bagian dari tubuh mereka sedemikian rupa sehingga tidak mengundang kaum munafik untuk menghina mereka. Jadi illat hukumnya adalah perlindungan terhadap perempuan. Jika perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah demikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau menggunakan jilbab atau tidak.
Apapun pilihan perempuan, harus dihargai dan dihormati sehingga terbangun kedamaian di masyarakat. Dalam realitas sosiologis di masyarakat jilbab tidak menyimbolkan apa-apa; tidak menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan salehah, sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang.
Sesungguhnya perbedaan para pakar hukum dalam memahami hukum jilbab adalah sangat manusiawi. Perbedaan pendapat muncul karena perbedaan dalam memahami makna ayat dan pertimbangan-pertimbangan nalar mereka. Dari sini, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa masalah jilbab dan batas aurat perempuan merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengkafirkan.
Berkaitan dengan ini, perlu diketengahkan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah tahun 1988 sebagi berikut: "Hukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan." Kalau begitu, jelas bahwa menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian dalam melaksanakan tuntunan Islam.
Akhirnya, perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan bebasnya melepas atau membuka kembali jilbabnya. Bahkan, juga mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak tertarik memakai jilbab. Walahu a’lam bi as-shawab.
Penulis : DR Musdah Mulia, Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah
Memahami agama dari perspektif yang luas akan menuntun seseorang menjadi lebih arif dan lebih bijaksana dalam merespon berbagai bentuk sikap dan perilaku keagamaan dari para pemeluk agama. Perlu dicatat bahwa agama bukanlah hanya terdiri dari setumpukan teks-teks suci, melainkan juga mengandung pesan-pesan moral yang dapat diketahui melalui perenungan dan pembahasan secara mendalam dari berbagai perspektif terhadap hal-hal yang bersifat kontekstual dari sebuah teks suci. Demikian halnya dengan teks-teks agama yang berbicara soal jilbab.
Berbicara soal busana perempuan dalam Islam, data-data historis sepanjang sejarah Islam mengungkapkan bahwa pandangan para ulama tidak tunggal, melainkan sangat beragam. Setidaknya, pandangan ulama dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola. Pertama, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan tangan, bahkan juga bagian mata. Kedua, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian muka dan tangan. Ketiga, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi tubuhnya, selain muka dan tangan hanya ketika melaksanakan ibadah salat dan thawaf. Di luar itu, perempuan boleh memilih pakaian yang disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat. Rambut kepala bagi kelompok ini bukanlah aurat sehingga tidak perlu ditutupi.
Menarik digarisbawahi bahwa ketiga pola pandangan yang berbeda itu sama-sama merujuk kepada teks-teks suci agama dan sama-sama mengklaim diri sebagai pandangan Islam yang benar. Perbedaan pandangan para ulama soal busana perempuan ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan pandangan tentang batas-batas aurat bagi perempuan. Yang pasti bahwa semua pandangan tadi merupakan hasil ijtihad para ulama. Sebagai hasil ijtihad, pandangan itu bisa salah, tetapi juga bisa benar.
Ada kaidah dalam hukum Islam, bahwa tidak satupun ulama atau komunitas agama yang dapat mengklaim pandangannya sebagai suatu yang mutlak dan absolut. Sebab, pada tataran ijtihad semua pandangan adalah relatif dan nisbi, serta dapat diubah. Artinya, setiap ulama dan komunitas agama bisa saja mengklaim pendapatnya benar, tetapi yang lain pun dapat melakukan hal yang sama. Dalam konteks ini yang diharapkan adalah agar setiap penganut agama bisa menghargai pendapat orang lain, sepanjang orang itu tidak memaksakan pendapatnya atau tidak menyalahkan pendapat orang lain. Dengan demikian, yang diperlukan dalam beragama sesungguhnya adalah sikap menghargai dan menghormati orang lain apapun pilihan pendapatnya, dan perlunya kearifan dalam merespon perbedaan pendapat.
Lalu, apa yang dimaksud dengan jilbab? Kata jilbab adalah bahasa Arab, berasal dari kata kerja ‘jalaba’ bermakna “menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat.” Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan jilbab. Sebagian pendapat mengatakan jilbab itu mirip rida’ (sorban), sebagian lagi mendefinisikannya dengan kerudung yang lebih besar dari khimar. Sebagian lagi mengartikannya dengan qina’, yaitu penutup muka atau kerudung lebar. Muhammad Said Al-Asymawi, mantan hakim agung Mesir menyimpulkan bahwa jilbab adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. Jilbab dalam Islam sangat erat kaitannya dengan masalah aurat dan soal hijab.
Satu-satunya ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menggunakan istilah jilbab adalah ayat 59 surah al-Ahzab: “Wahai Nabi, katakanlan kepada para isterimu dan anak-anak perempuanmu, serta para perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Sebab, yang demikian itu akan membuat mereka lebih mudah dikenali sehingga terhindar dari perlakuan tidak sopan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Para ulama sepakat bahwa ayat tersebut merespon tradisi perempuan Arab ketika itu yang terbiasa bersenang ria. Mereka membiarkan muka mereka terbuka seperti layaknya budak perempuan, mereka juga membuang hajat di padang pasir terbuka karena belum ada toilet. Para perempuan beriman juga ikut-ikutan seperti umumnya perempuan Arab tersebut. Kemudian mereka diganggu oleh kelompok laki-laki jahat yang mengira mereka adalah perempuan dari kalangan bawah. Mereka lalu datang kepada Nabi mengadukan hal tersebut. Lalu turunlah ayat ini menyuruh para isteri Nabi, anak perempuannya dan perempuan beriman agar memanjangkan gaun mereka menutupi sekujur tubuh.
Muhammad Said Al-Asymawi berkata: 'illat hukum pada ayat-ayat jilbab, atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar perempuan-perempuan merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan perempuan-perempuan yang berstatus hamba sahaya dan perempuan-perempuan yang tidak terhormat. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi kerancuan menyangkut mereka dan agar masing-masing dikenal sehingga perempuan-perempuan merdeka tidak mengalami gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk terhadap mereka. Bukti tentang kebenaran hal ini adalah 'Umar Ibn Khaththab ra. bila melihat seorang perempuan budak menggunakan penutup muka atau mengulurkan jilbabnya, beliau mencambuk perempuan itu. Ini guna membedakan mereka dengan perempuan-perempuan merdeka.
Selain ayat tersebut, ayat-ayat lain yang menyinggung soal jilbab, adalah al-Ahzab, 32, 33 dan 53; serta an-Nur ayat-ayat: 30, 31 dan 60. Adapun hadis yang banyak dijadikan rujukan adalah hadis riwayat Aisyah dan hadis riwayat Abu Daud. Keduanya hadis ahad, bukan hadis mutawatir. Para pakar hukum umumnya sepakat menilai hadis ahad tidak kuat menjadi landasan hukum.
Jika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekedar agar mereka dikenali; atau agar mereka dibedakan dari perempuan yang bersatus budak; atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang tidak ada lagi perbudakan, juga busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas seseorang. Dewasa ini banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat perempuan terhormat dan disegani, misalnya dengan meningkatkan kualitas pendidikan, memberdayakan mereka dengan mengajarkan berbagai skill dan keterampilan, memenuhi hak-hak asasi mereka, khususnya hak-hak reproduksi mereka.
Jika ayat-ayat jilbab mengandung pesan moral untuk meninggikan martabat kaum perempuan, maka kaum perempuan modern ditantang oleh Islam untuk menunjukkan martabat tersebut yang perlindungannya ditetapkan oleh agama, tetapi dengan suatu cara atau berbagai cara yang selaras dengan lingkungan mereka yang modern. Artinya, ajaran Islam menghendaki para perempuan tetap terjaga moralitasnya, meskipun tidak menggunakan simbol-simbol seperti jilbab dan sebagainya.
Pembacaan yang seksama terhadap semua ayat dan hadis Nabi tentang jilbab, pada akhirnya membawa kepada suatu kesimpulan berikut. Jilbab pada hakikatnya adalah mengendalikan diri dari dorongan syahwat, dan membentengi diri dari semua perilaku dosa dan maksiat. Jilbab dengan demikian tidaklah terkait dengan busana tertentu, melainkan lebih berkaitan dengan takwa di dalam hati. Perempuan beriman tentu secara sadar akan memilih busana sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga menimbulkan perhatian publik, dan yang pasti juga tidak untuk pamer (riya’).
Pemahaman tentang jilbab hendaknya dimulai dengan memahami tauhid, inti ajaran Islam. Tauhid, inti ajaran Islam mengajarkan bagaimana berketuhanan yang benar, dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Ajaran tauhid membawa kepada pengakuan akan persamaaan manusia di hadapan Tuhan dan keharusan menghormati sesama manusia tanpa melihat jenis kelamin, gender, ras, suku bangsa, dan bahkan agama. Pemahaman tauhid berimplikasi pada dua aspek ajaran: ajaran tentang ketuhanan (dimensi vertikal) dan kemanusiaan (dimensi horisontal). Yang pertama berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan (hablun minallah), sementara yang terakhir berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya (hablun minannas). Sayangnya, dalam praktek beragama di masyarakat, dimensi horisontal ini tidak terwujud dengan baik dalam kehidupan penganutnya. Penganut agama lebih mengutamakan hubungan dengan Tuhan ketimbang dengan sesamanya manusia. Akibatnya, agama sering tampil dalam wajah yang tidak bersahabat, terutama terhadap perempuan.
Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya penghormatan kepada manusia dan itu terlihat dari ajarannya yang sangat akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (Toleran). Salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan yang tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Yang membedakan hanyalah prestasi dan kualitas takwanya. Dan bicara soal takwa, hanya Tuhan semata yang berhak melakukan penilaian. Tugas manusia hanyalah berkompetisi melakukan amal baik sebanyak-banyaknya (fastabiqul khairat). Namun, tidak sedikit manusia memposisikan dirinya seperti Tuhan sehingga berani menilai manusia sebagai sesat, kafir, berdosa dan sebagainya.
Perempuan dan laki-laki dalam Islam sama-sama harus berbusana yang sopan dan sederhana, tidak pamer dan tidak mengundang birahi. Dengan mempelajari asbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab dapat disimpulkan bahwa jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama. Sebab, jika jilbab memang ditetapkan untuk perlindungan, atau lebih jauh lagi, untuk meningkatkan prestise kaum perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.
Memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu hanyalah ketentuan Al-Quran bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi, dan semua perempuan beriman di masa itu untuk menutup tubuh mereka atau bagian dari tubuh mereka sedemikian rupa sehingga tidak mengundang kaum munafik untuk menghina mereka. Jadi illat hukumnya adalah perlindungan terhadap perempuan. Jika perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah demikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau menggunakan jilbab atau tidak.
Apapun pilihan perempuan, harus dihargai dan dihormati sehingga terbangun kedamaian di masyarakat. Dalam realitas sosiologis di masyarakat jilbab tidak menyimbolkan apa-apa; tidak menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan salehah, sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang.
Sesungguhnya perbedaan para pakar hukum dalam memahami hukum jilbab adalah sangat manusiawi. Perbedaan pendapat muncul karena perbedaan dalam memahami makna ayat dan pertimbangan-pertimbangan nalar mereka. Dari sini, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa masalah jilbab dan batas aurat perempuan merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengkafirkan.
Berkaitan dengan ini, perlu diketengahkan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah tahun 1988 sebagi berikut: "Hukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan." Kalau begitu, jelas bahwa menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian dalam melaksanakan tuntunan Islam.
Akhirnya, perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan bebasnya melepas atau membuka kembali jilbabnya. Bahkan, juga mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak tertarik memakai jilbab. Walahu a’lam bi as-shawab.
Penulis : DR Musdah Mulia, Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah
Proyek Rumah
Sekitar bulan Januari 2013 desain rumah ala kadar nya telah selesai butuh sekitar 8 bulan buat finishing nya yah karena sibuk jadi desain agak molor...ini project sudah saya rencanakan semenjak duduk di bangku kuliah, dan sudah selesai sebelum saya lulus.tetapi karena PC saya wariskan ke si lutfi dan...salah mempartisi hardisk akhirnya semua hilang begitu saja.memang digariskan untuk bersabar
Sebagai seorang karyawan baru, dalam hitung-hitungan manusia sungguh berat jika akan membangun rumah dari progres fisik 0 % sampai dengan finishing 100 % dengan penghasilan saat ini,baru bisa selevel Kapro. Saya sempat membuat Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan nya...., dan wuiih ternyata jauh dari harapan…hahaha..saya jadi tertawa sendiri dalam hati. akhirnya Rencana B pun keluar, untuk mencari tempat tinggal perumahan dulu didaerah Tegal
saya ceritakan sebelumnya, dari awal project pingin rumah ini,saya minta sama Allah Yang Maha Memiliki untuk project dimasa depan. Saya akan menggunakan perhitungan Allah Yang Maha Dahsyat seperti yang saya gunakan saat project2 sekarang ini. Kalo belum mampu membangun secara fisik, saya bangun dulu melalui doa, visualisasi, pikiran, dan harapan. Membangun rumah yang lokasinya strategis, dekat masjid, dekat keluarga, dekat sekolah unggulan, dekat pasar. Terbesit juga dalam rencana project rumah ini, nanti rumah ini bisa dipakai untuk mengaji anak-anak tetangga seperti rumah kepala desa yang dulu saya tempati saat KKN di Temanggung. Yang terpenting dalam harapan saya adalah rumah ini bisa sesejuk rumah orang tua saya dan dapat digunakan sebagai sarana mendidik anak-anak menjadi anak yang soleh-solehah yang berkepribadian tangguh. Aamiin ya Allah
Sebagai seorang karyawan baru, dalam hitung-hitungan manusia sungguh berat jika akan membangun rumah dari progres fisik 0 % sampai dengan finishing 100 % dengan penghasilan saat ini,baru bisa selevel Kapro. Saya sempat membuat Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan nya...., dan wuiih ternyata jauh dari harapan…hahaha..saya jadi tertawa sendiri dalam hati. akhirnya Rencana B pun keluar, untuk mencari tempat tinggal perumahan dulu didaerah Tegal
saya ceritakan sebelumnya, dari awal project pingin rumah ini,saya minta sama Allah Yang Maha Memiliki untuk project dimasa depan. Saya akan menggunakan perhitungan Allah Yang Maha Dahsyat seperti yang saya gunakan saat project2 sekarang ini. Kalo belum mampu membangun secara fisik, saya bangun dulu melalui doa, visualisasi, pikiran, dan harapan. Membangun rumah yang lokasinya strategis, dekat masjid, dekat keluarga, dekat sekolah unggulan, dekat pasar. Terbesit juga dalam rencana project rumah ini, nanti rumah ini bisa dipakai untuk mengaji anak-anak tetangga seperti rumah kepala desa yang dulu saya tempati saat KKN di Temanggung. Yang terpenting dalam harapan saya adalah rumah ini bisa sesejuk rumah orang tua saya dan dapat digunakan sebagai sarana mendidik anak-anak menjadi anak yang soleh-solehah yang berkepribadian tangguh. Aamiin ya Allah
Langganan:
Postingan (Atom)



